Kamis, 05 Februari 2015

The Last Person Standing Chap. 7

yo~ semua~! apa kabar nih? udah pada nungguin ya, The Last Person Standing? oke oke~ langsung aja ya~ cekitbrottt~


The Last Person Standing

.
.
.
.
"Kalian semua payah...."

Semua mendongak ke atas untuk melihat siapa yang berbicara, termasuk Morida. 

"Siapa kau?" Tanya Morida dengan nada yang biasa seperti biasa, terlihat saja di lengan jaket nya terdapat bekas cipratan darah mafia tadi.

"aku? oh, Nomizu June... aku seorang dewi, jadi jangan membuat masalah padaku..." Ucap gadis yang diketahui namanya ialah Nomizu June.

"Dewi?" Semuanya mengulangi perkataan gadis itu. Lalu gadis itu turun dan kini Nomizu sudah berada di hadapan mereka, saat itu juga senyuman yang terpampang diwajah pucat milik Nomizu berubah menjadi senyuman ramah. "kalau begitu.. kita bekerjasama? aku akan membantu kalian untuk membunuh para mafia itu gimana?" jelas Nomizu.

Semua berpikir sejenak, seketika nafas Morida tersendat, semua terkejut saat itu. "MORIDA!" Semua berteriak kaget, tubuh Morida jatuh ke tanah dengan kata lain pingsan.

"yah, dia mati..." ucap Nomizu dengan nada yang hampir sama dengan Morida, datar.

"tidak, dia hanya pingsan. Padahal tadi baik baik saja.."

"ini aneh. . . ." berhenti sejenak, lalu Samuel melanjutkan, ". . . tunggu sebentar... jangan jangan karena dia menggunakan Double slayer of death.... ITU JURUS TERLARANG DAN DIA MENGGUNAKANNYA?!"

"APA!?"
 .
.
.
.
.
~keesokan harinya~

Setelah pertempuran  yang dasyat itu, Morida tiba tiba koma. Kini ia sedang berbaring di salah satu rumah sakit di Osaka. Entah Morida bisa melawan koma nya itu atau tidak, yang pasti Samuel dan yang lainnya berharap Morida akan segera membaik.
.
.
.
~Di kamar Morida~

Samuel P.O.V

Kini aku berada di kamar Morida, hanya menunggu Morida sampai bangun. Ku pandangi gadis bersurai hitam gelap itu dari sofa yang ku duduki ini, entah sampai kapan dia akan koma dan kapan dia akan bangun.
Semakin ku lihat dan melihat Morida terus menerus, entah ada perasaan yang aneh di diriku ini. Entah kenapa aku merasa tidak mau kehilangan  Morida, motto di keluarga Sakurai ialah "lindungilah seseorang yang kau sayangi dengan nyawa mu"  Begitulah aku sekarang. Ingin rasanya aku lindungi Pembunuh Kecil  itu, setidaknya itu sebutan yang dimiliki Morida. Ya, kini ku tau apa maksud dari motto tersebut. Tiga detik kemudian Louis masuk, ia melihatku sebagaimananya aku melihatnya juga.

"yo, Samuel"

Normal P.O.V

Louis masuk dan melihat Samuel. "oh? kau juga disini, sam?" tanya Louis kepada Samuel.

"Ya, begitulah... kau sendiri?" tanya Samuel kembali kepada Louis.

"ohya, ada yang ingin ku bicarakan kepadamu, bisa kan kita berbicara diluar?" tanya Louis. Samuel mengangguk, lalu dua pemuda itu keluar dari kamar Morida, bertepatan dengan perawat yang masuk ke kamar Morida untuk memeriksa keadaan Morida.

~5 menit kemudian~

Perawat yang tadi masuk, keluar dengan ekspresi yang terbilang panik. Lalu perawat itu segera memotong pembicaraan Samuel dan Louis, dan memberitahu kepada kedua pemuda itu, bahwa detak jantung Morida berhenti tiba tiba.

"A-APA?!" Teriak Samuel dan Louis bersamaan.

-To be continue-

Tidak ada komentar:

Posting Komentar